Kamis, 21 Mei 2015

PENGELOLAAN KELAS KONSTRUKTIVISTIK


BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian Pengelolaan Kelas Konstruktivistik
Pembelajaran konstruktivistik adalah pembelajaran yang lebih menekankan pada proses dan kebebasan dalam menggali pengetahuan serta upaya dalam mengkonstruksi pengalaman. Dalam proses belajarnya pun, memberi kesempatan kepada subyek untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga subyek menjadi lebih kreatif dan imajinatif serta dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Pembentukan pengetahuan menurut model konstruktivisme memandang subyek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi (Piaget,1988:60).
Berikut adalah asumsi-asumsi dasar yang memandu teori konstruktifistik yang berkaitan dengan pengelolaan kelas :
1. Yang petama dan terpenting dari pengelolaan kelas adalah tentang menciptakan lingkungan kelas yang di dalamnya semua siswa merasa aman dan nyaman dan dapat memaksimalkan belajar akademis dan ketrampilan sosial. Ketika guru dan siswa menciptakan tipe-tipe setting ruang kelas, pelajar cenderung membuat pilihan yang baik dan belajar mereka ditingkatkan.
2. Pengelolaan kelas sangat berhubungan dengan instruksi yang sangat efektif. Dengan begitu siswa akan cenderung bertindak dengan bertanggung jawab, dan belajar mereka akan meningkat ketika mereka terlibat secara sukses dan aktif dalam perencanaan yang penuh arti,yang relevan dengan pengetahuan dan keahlian.
3. Pengelolaan kelas harus meningkatkan rasa kepemilikan siswa, tanggung jawab dan rasa keyakinan personal siswa yang berkaitan dengan belajar mereka.
4. Pengelolaan kelas meliputi metode untuk membantu siswa mengembangkan keahlian perilaku baru yang dapat membantunya dalam bekerja sama dan berhasil bersama orang lain.
5. Pengelolaan kelas yang efektif memerlukan guru yang menjaga nilai-nilai dan keyakinannya tentang pentingnya bekerja sama dengan siswa.
6. Pengelolaan kelas meliputi perencanaan yang bermanfaat dan memfokuskan pada pertumbuhan profesional.
Pengelolaan kelas harus berdasarkan pemahaman atas penelitian dan teori mutakhir dalam menejemen kelas dan kebutuhan personal dan psikologis siswa. pengalaman dalam pengajaran pelatihan pengelolaan kelas dan konsultan sekolah menunjukkan bahwa, meskipun muncul kekhawatiran luas terhadap prestasi siswa dan perilaku menyimpang, sangat sedikit guru yang memahami mengapa masalah ini muncul atau bagaimana hubungan antara masalah dan perilaku professional mereka dan kekeliruan dalam memenuhi kebutuhan personal dan akademik siswa.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas konstruktifistik ialah cara guru mengkonstruk dan mengembangkan sendiri metode mengelola kelas dengan berdasar pada pengalaman dan kebutukan kelas untuk memaksimalkan belajar akademis dan ketrampilan sosial siswa.
B.   Proses Pengelolaan Kelas Konstruktivistik
Dalam pengelolaan kelas konstruktifistik, guru dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam minciptakan gaya dan cara mengelola kelas agar tercipta pembelajaran yang kondusif mencakup kegiatan pra KBM, proses KBM dan proses evaluasi. Dalam proses pembelajaran guru tidak hanya menyampaikan materi yang bersifat normatif (tekstual) tetapi harus juga menyampaikan materi yang bersifat kontekstual. Contoh ketika guru menyampaikan materi tentang sholat, tidak cukup hanya menjelaskan materi norma-norma tentang sholat, tetapi juga harus menjelaskan dan membangun penghayatan makna sholat dalam kehidupan. Sehingga akhirnya siswa dan masyarakat benar-benar mampu memberikan jawaban secara akademik tentang ayat Al-Qur’an yang artinya : Sholat dapat mencegah perbuatan yang keji dan munkar.
Teori konstruktifistik membawa implikasi dalam pembelajaran yang menekankan pada proses sosial. Proses sosial antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa harus diwujudkan. C. Asri Budiningsih dalam buku Pembelajaran Moral menyatakan bahwa keberhasilan belajar sangat ditentukan oleh peran sosial seluruh anggota kelas. Dalam situasi sosial akan terjadi situasi saling berhubungan, terdapat tata hubungan, tata tingkah laku, dan sikap diantara sesama manusia. Konsekuensinya, dalam mengelola kelas guru harus memiliki keterampilan untuk menyesuaikan diri dan mengendalikan proses sosial di dalam  kelas.
Peran guru dalam pembelajaran konstruktifistik  adalah lebih sebagai fasilitator atau moderator. Sedangkan posisi siswa adalah harus aktif, kreatif dan kritis. Konsekuensi utamanya guru sebelum memberikan materi pembelajaran harus mengetahui kemampuan awal siswa, jangan siswa dalam belajar berawal dari pemahaman yang kosong.
Paul Suparno SJ dalam buku Reformasi Pendidikan menyatakan bahwa model pembelajaran yang dianggap tepat menurut teori konstruktifistik adalah model pembelajaran yang demokratis dan dialogis. Guru dalam pembelajaran harus member ruang kebebasan siswa untuk melakukan kritik, memiliki peluang yang luas untuk mengungkapkan idea tau gagasan, guru tidak memiliki jiwa otoriter atau dictator.
Guru, dalam pengelolaan konstruktivistik berperan memberdayakan seluruh potendi siswa agar siswa mampu pelaksanakan proses pembelajaran. Guru bertugas tidak hanya mentransfer pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan berusaha memberdayakan seluruh potensi dan sarana yang dapat membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Dalam konteks ini guru dituntut memiliki kemampuan memahami jalan pikiran / cara pandang dan kebutuhan siswa dalam belajar.
Setelah guru memahami kebutuhan siswa dan bagaimana kebutuhan ini berhubungan dengan perilaku, maka langkah berikutnya adalah mengembangkan kelas yang termenejemen dengan baik untuk meyakinkan bahwa kebutuhan personal siswa dipenuhi di kelas. Kemudian, factor kedua adalah bahwa pengelolaan kelas tergantung pada penciptaan iklim kelas yang positif dan komunitas yang mendukung , dengan menjalin hubungan positif guru dan siswa dan menggunakan metode organisasi dan menejemen kelompok yang melibatkan siswa dalam pengembangan dan komitmen terhadap standar perilaku dan memfasititasi tugas siswa. Membentuk perilaku positif siswa dengan menitikberatkan pada pembentukan lingkungan kelas yang positif dan mendukung.
Meskipun menciptakan hubungan positif dalam kelas dapat memperbaiki perilaku dan prestasi siswa secara signifikan, penelitian juga menunjukkan pentingnya instruksi yang bagus. Jadi factor ketiga dalam pengelolaan kelas yang efektif adalam menejemen kelas komprehensif yang menggunakan metode instruksional yang memfasilitasi pembelajaran yang optimal dengan merespon kebutuhan akademik siswa individu dan kelompok kelas. Namun demikian siapapun yang mengajar / bekerja dengan anak / remaja akan mengetahui bahwa beberapa siswa sering berkelakuan tidak baik. Akibatnya guru membutuhkan keterampilan pengelolaan perilaku untuk mendukung keahlian instruksional mereka.
Factor terakhir dalam pengelolaan kelas adalah bahwa pengelolaan kelas melibatkan kemampuan untuk menggunakan berbagai macam metode konseling dan perilaku yang melibatkan siswa dalam meneliti dan mengoreksi perilaku yang tidak tepat. Guru tidak dapat diharapkan untuk menggunakan strategi konseling mendalam di kelas. Meskipun demikian banyak pendekatan efektif yang relative sederhana tersedia untuk membantu siswa meneliti dan mengubah perilaku mereka. Karena guru semakin banyak berhadapan dengan tugas pengajaran siswa yang memerlukan bantuan khusus, guru perlu menguasai teknik pemecahan masalah dan menejemen perilaku
Seorang guru harus mampu memanfaatkan sarana pembelajaran dengan baik. Segala sarana baik perangkat keras maupun perangkat lunak harus didesain dan dikelola guru guna memperlancar proses pembelajaran. Pembelajaran dalam konteks teori konstruktivistik harus lebih menekankan penggunaan media sebagai sarana untuk mempercepat pemahaman terhadap materi. Oleh sebab itu guru mutlak memiliki kemampuan untuk memberdayakan media pembelajaran.
Guru juga harus mampu melaksanakan evaluasi dengan baik. Evaluasi tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui kualitas siswa dalam memahami materi dari guru. Evaluasi menjadi sarana untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan proses pembelajaran.
Secara rinci peran guru dalam pengelolaan kelas konstruktivistik dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
  1. Mampu membangun atau menumbuhkan semangat atau jiwa kemandirian dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil inisiatif dalam memahami pengetahuan atau teori.
  2. Guru mampu membangun / membimbing siswa dalam memahami pengetahuan dan mampu bertindak dan berperilaku sesuai dengan aturan dalam realitas masyarakat.
  3. Guru mengkondisikan / mewujudkan system pembelajaran yang mendukung kemudahan belajar bagi siswa sehingga mempunyai peluang optimal berlatih untuk memperoleh kompetensi.
  4. Guru harus mampu memanfaatkan sarana pembelajaran dengan baik sebagai sarana untuk mempercepat pemahaman terhadap materi.
  5. Guru juga harus mampu melaksanakan evaluasi dengan baik.
C.   Model Model Pembelajaran Konstruktivistik
1.      Discovery Learning
Salah satu pembelajaran yang paling berpengaruh adalah discovery learning yang diterapkan oleh Jerome Bruner, yaitu guru mendorong siswa untuk belajar dengan diri mereka sendiri. Keuntungan  dalam pembelajaran discovery learning adalah, siswa memiliki motivasi untuk menyelesaikan pekerjaannya sampai menemukan sendiri jawaban-jawaban atas problem-problem yang mereka hadapi.
2.      Reception Learning
Dalam teori reseption learning, guru memiliki tugas untuk menyusun situasi pembelajaran, memilih materi yang sesuai bagi siswa, kemudian memperesentasikan dengan baik isi pelajaran yang dimulai dari umum ke spesifik.
3.      Assisted Learning
Model pembelajaran ini percaya bahwa seorang anak “tidak sendirian” dalam menemukan dunianya sebagai bagian proses perkembangan kognitifnya. Dalam belajar dengan bantuan atau perantara ini, guru adalah seorang agen budaya yang dengan bimbingan dan pengajarannya siswa dapat menginternalisasi dan menguasai keterampilan yang membutuhkan fungsi kognitif yang lebih tinggi.
4.      Active Learning
Model pembelajaran Active Learning atau pembelajaran aktif ini percaya bahwa cara untuk menguasai pelajaran yang terbaik adalah dengan mengajarkan. Menurut Silberman (1996), cara belajar dengan cara mendengarkan akan lupa, dengan cara mendengarkan dan melihat akan ingat sedikit, dengan cara mendengarkan, melihat, dan mendiskusikan dengan siswa lain akan paham, dengan cara mendengar, melihat, diskusi, dan melakukan akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan, dan cara untuk menguasai pelajaran yang terbagus adalah dengan mengajarkannya.
5.      The Accelerated Learning
Konsep dasar dari pembelajaran ini adalah bahwa pembelajaran itu berlangsung cepat, menyenangkan, dan memuaskan. Dave Meier menyarankan kepada guru agar menggunakan pendekatan Somatic, Auditory, Visual dan Intellectual (SAVI) dalam pengelolaan kelas. Somatic adalah learning by moving and doing. Auditory adalah learning by talking and hearing. Visual adalah learning by observing and picturing. Intellectual adalah learning by problem solving and reflecting.
6.      Quantum Learning
Quantum Learning adalah cara penggubahan macam-macam interaksi, hubungan, dan inspirasi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar. Konsep dasar dari metode ini adalah bahwa belajar itu harus mengasyikkan dan berlangsung dalam suasana gembira, sehingga pintu masuk informasi baru akan lebih lebar dan terekam dengan baik.
7.      Contextual Teaching and Learning (CTL)
Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar