BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pengelolaan Kelas Konstruktivistik
Pembelajaran
konstruktivistik adalah pembelajaran yang lebih menekankan pada proses dan
kebebasan dalam menggali pengetahuan serta upaya dalam mengkonstruksi
pengalaman. Dalam proses belajarnya pun, memberi kesempatan kepada subyek untuk mengemukakan
gagasannya dengan bahasa sendiri, untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga
subyek
menjadi lebih kreatif dan imajinatif serta dapat menciptakan lingkungan belajar
yang kondusif.
Pembentukan
pengetahuan menurut model konstruktivisme memandang subyek aktif menciptakan
struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan
struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi
kognitif tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek
itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan
berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses
penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi
(Piaget,1988:60).
Berikut adalah asumsi-asumsi dasar yang memandu
teori konstruktifistik yang berkaitan dengan pengelolaan kelas :
1. Yang petama dan terpenting dari pengelolaan kelas
adalah tentang menciptakan lingkungan kelas yang di dalamnya semua siswa merasa
aman dan nyaman dan dapat memaksimalkan belajar akademis dan ketrampilan
sosial. Ketika guru dan siswa menciptakan tipe-tipe setting ruang kelas,
pelajar cenderung membuat pilihan yang baik dan belajar mereka ditingkatkan.
2. Pengelolaan kelas sangat berhubungan dengan
instruksi yang sangat efektif. Dengan begitu siswa akan cenderung bertindak
dengan bertanggung jawab, dan belajar mereka akan meningkat ketika mereka
terlibat secara sukses dan aktif dalam perencanaan yang penuh arti,yang relevan
dengan pengetahuan dan keahlian.
3. Pengelolaan kelas harus meningkatkan rasa
kepemilikan siswa, tanggung jawab dan rasa keyakinan personal siswa yang
berkaitan dengan belajar mereka.
4. Pengelolaan kelas meliputi metode untuk membantu siswa
mengembangkan keahlian perilaku baru yang dapat membantunya dalam bekerja sama
dan berhasil bersama orang lain.
5. Pengelolaan kelas yang efektif memerlukan guru
yang menjaga nilai-nilai dan keyakinannya tentang pentingnya bekerja sama
dengan siswa.
6. Pengelolaan kelas meliputi perencanaan yang
bermanfaat dan memfokuskan pada pertumbuhan profesional.
Pengelolaan kelas
harus berdasarkan pemahaman atas penelitian dan teori mutakhir dalam menejemen
kelas dan kebutuhan personal dan psikologis siswa. pengalaman dalam pengajaran
pelatihan pengelolaan kelas dan konsultan sekolah menunjukkan bahwa, meskipun
muncul kekhawatiran luas terhadap prestasi siswa dan perilaku menyimpang,
sangat sedikit guru yang memahami mengapa masalah ini muncul atau bagaimana
hubungan antara masalah dan perilaku professional mereka dan kekeliruan dalam
memenuhi kebutuhan personal dan akademik siswa.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengelolaan
kelas konstruktifistik ialah cara guru mengkonstruk dan mengembangkan sendiri
metode mengelola kelas dengan berdasar pada pengalaman dan kebutukan kelas
untuk memaksimalkan belajar akademis dan ketrampilan sosial siswa.
B.
Proses Pengelolaan Kelas
Konstruktivistik
Dalam pengelolaan
kelas konstruktifistik, guru dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam
minciptakan gaya dan cara mengelola kelas agar tercipta pembelajaran yang
kondusif mencakup kegiatan pra KBM, proses KBM dan proses evaluasi. Dalam
proses pembelajaran guru tidak hanya menyampaikan materi yang bersifat normatif
(tekstual) tetapi harus juga menyampaikan materi yang bersifat kontekstual.
Contoh ketika guru menyampaikan materi tentang sholat, tidak cukup hanya
menjelaskan materi norma-norma tentang sholat, tetapi juga harus menjelaskan
dan membangun penghayatan makna sholat dalam kehidupan. Sehingga akhirnya siswa
dan masyarakat benar-benar mampu memberikan jawaban secara akademik tentang
ayat Al-Qur’an yang artinya : Sholat dapat mencegah perbuatan yang keji dan
munkar.
Teori
konstruktifistik membawa implikasi dalam pembelajaran yang menekankan pada
proses sosial. Proses sosial antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa
harus diwujudkan. C. Asri Budiningsih dalam buku Pembelajaran Moral menyatakan
bahwa keberhasilan belajar sangat ditentukan oleh peran sosial seluruh anggota
kelas. Dalam situasi sosial akan terjadi situasi saling berhubungan, terdapat
tata hubungan, tata tingkah laku, dan sikap diantara sesama manusia.
Konsekuensinya, dalam mengelola kelas guru harus memiliki keterampilan untuk
menyesuaikan diri dan mengendalikan proses sosial di dalam kelas.
Peran guru dalam pembelajaran konstruktifistik adalah lebih sebagai fasilitator atau
moderator. Sedangkan posisi siswa adalah harus aktif, kreatif dan kritis.
Konsekuensi utamanya guru sebelum memberikan materi pembelajaran harus
mengetahui kemampuan awal siswa, jangan siswa dalam belajar berawal dari
pemahaman yang kosong.
Paul Suparno SJ dalam buku Reformasi Pendidikan menyatakan bahwa
model pembelajaran yang dianggap tepat menurut teori konstruktifistik adalah
model pembelajaran yang demokratis dan dialogis. Guru dalam pembelajaran harus
member ruang kebebasan siswa untuk melakukan kritik, memiliki peluang yang luas
untuk mengungkapkan idea tau gagasan, guru tidak memiliki jiwa otoriter atau
dictator.
Guru, dalam pengelolaan konstruktivistik berperan memberdayakan
seluruh potendi siswa agar siswa mampu pelaksanakan proses pembelajaran. Guru
bertugas tidak hanya mentransfer pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan
berusaha memberdayakan seluruh potensi dan sarana yang dapat membantu siswa
untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Dalam konteks ini guru dituntut
memiliki kemampuan memahami jalan pikiran / cara pandang dan kebutuhan siswa
dalam belajar.
Setelah guru memahami kebutuhan siswa dan bagaimana kebutuhan ini
berhubungan dengan perilaku, maka langkah berikutnya adalah mengembangkan kelas
yang termenejemen dengan baik untuk meyakinkan bahwa kebutuhan personal siswa
dipenuhi di kelas. Kemudian, factor kedua adalah bahwa pengelolaan kelas
tergantung pada penciptaan iklim kelas yang positif dan komunitas yang
mendukung , dengan menjalin hubungan positif guru dan siswa dan menggunakan
metode organisasi dan menejemen kelompok yang melibatkan siswa dalam
pengembangan dan komitmen terhadap standar perilaku dan memfasititasi tugas
siswa. Membentuk perilaku positif siswa dengan menitikberatkan pada pembentukan
lingkungan kelas yang positif dan mendukung.
Meskipun menciptakan hubungan positif dalam kelas dapat
memperbaiki perilaku dan prestasi siswa secara signifikan, penelitian juga
menunjukkan pentingnya instruksi yang bagus. Jadi factor ketiga dalam
pengelolaan kelas yang efektif adalam menejemen kelas komprehensif yang
menggunakan metode instruksional yang memfasilitasi pembelajaran yang optimal
dengan merespon kebutuhan akademik siswa individu dan kelompok kelas. Namun
demikian siapapun yang mengajar / bekerja dengan anak / remaja akan mengetahui
bahwa beberapa siswa sering berkelakuan tidak baik. Akibatnya guru membutuhkan
keterampilan pengelolaan perilaku untuk mendukung keahlian instruksional
mereka.
Factor terakhir dalam pengelolaan kelas adalah bahwa pengelolaan
kelas melibatkan kemampuan untuk menggunakan berbagai macam metode konseling
dan perilaku yang melibatkan siswa dalam meneliti dan mengoreksi perilaku yang
tidak tepat. Guru tidak dapat diharapkan untuk menggunakan strategi konseling
mendalam di kelas. Meskipun demikian banyak pendekatan efektif yang relative
sederhana tersedia untuk membantu siswa meneliti dan mengubah perilaku mereka.
Karena guru semakin banyak berhadapan dengan tugas pengajaran siswa yang
memerlukan bantuan khusus, guru perlu menguasai teknik pemecahan masalah dan
menejemen perilaku
Seorang guru harus mampu memanfaatkan sarana pembelajaran dengan
baik. Segala sarana baik perangkat keras maupun perangkat lunak harus didesain
dan dikelola guru guna memperlancar proses pembelajaran. Pembelajaran dalam
konteks teori konstruktivistik harus lebih menekankan penggunaan media sebagai
sarana untuk mempercepat pemahaman terhadap materi. Oleh sebab itu guru mutlak
memiliki kemampuan untuk memberdayakan media pembelajaran.
Guru juga harus mampu melaksanakan evaluasi dengan baik. Evaluasi
tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui kualitas siswa dalam memahami materi
dari guru. Evaluasi menjadi sarana untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan
proses pembelajaran.
Secara rinci peran guru dalam pengelolaan kelas konstruktivistik
dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
- Mampu membangun atau menumbuhkan semangat atau jiwa kemandirian dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil inisiatif dalam memahami pengetahuan atau teori.
- Guru mampu membangun / membimbing siswa dalam memahami pengetahuan dan mampu bertindak dan berperilaku sesuai dengan aturan dalam realitas masyarakat.
- Guru mengkondisikan / mewujudkan system pembelajaran yang mendukung kemudahan belajar bagi siswa sehingga mempunyai peluang optimal berlatih untuk memperoleh kompetensi.
- Guru harus mampu memanfaatkan sarana pembelajaran dengan baik sebagai sarana untuk mempercepat pemahaman terhadap materi.
- Guru juga harus mampu melaksanakan evaluasi dengan baik.
C.
Model Model Pembelajaran
Konstruktivistik
1.
Discovery Learning
Salah satu pembelajaran yang paling berpengaruh adalah
discovery learning yang diterapkan oleh Jerome Bruner, yaitu guru mendorong siswa untuk
belajar dengan diri mereka sendiri. Keuntungan dalam pembelajaran
discovery learning adalah, siswa memiliki motivasi untuk menyelesaikan pekerjaannya
sampai menemukan sendiri jawaban-jawaban atas problem-problem yang mereka
hadapi.
2.
Reception Learning
Dalam teori reseption learning, guru memiliki tugas
untuk menyusun situasi pembelajaran, memilih materi yang sesuai bagi siswa,
kemudian memperesentasikan dengan baik isi pelajaran yang dimulai dari umum ke
spesifik.
3.
Assisted Learning
Model pembelajaran ini percaya bahwa seorang anak “tidak
sendirian” dalam menemukan dunianya sebagai bagian proses perkembangan
kognitifnya. Dalam belajar dengan bantuan atau perantara ini, guru adalah
seorang agen budaya yang dengan bimbingan dan pengajarannya siswa dapat
menginternalisasi dan menguasai keterampilan yang membutuhkan fungsi kognitif
yang lebih tinggi.
4.
Active Learning
Model pembelajaran Active Learning atau pembelajaran
aktif ini percaya bahwa cara untuk menguasai pelajaran yang terbaik adalah
dengan mengajarkan. Menurut Silberman (1996), cara belajar dengan cara
mendengarkan akan lupa, dengan cara mendengarkan dan melihat akan ingat
sedikit, dengan cara mendengarkan, melihat, dan mendiskusikan dengan siswa lain
akan paham, dengan cara mendengar, melihat, diskusi, dan melakukan akan
memperoleh pengetahuan dan keterampilan, dan cara untuk menguasai pelajaran
yang terbagus adalah dengan mengajarkannya.
5.
The Accelerated Learning
Konsep dasar dari pembelajaran ini adalah bahwa
pembelajaran itu berlangsung cepat, menyenangkan, dan memuaskan. Dave Meier
menyarankan kepada guru agar menggunakan pendekatan Somatic, Auditory, Visual
dan Intellectual (SAVI) dalam pengelolaan kelas. Somatic adalah learning by
moving and doing. Auditory adalah learning by talking and hearing. Visual
adalah learning by observing and picturing. Intellectual adalah learning by
problem solving and reflecting.
6.
Quantum Learning
Quantum Learning adalah cara penggubahan macam-macam
interaksi, hubungan, dan inspirasi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar.
Konsep dasar dari metode ini adalah bahwa belajar itu harus mengasyikkan dan
berlangsung dalam suasana gembira, sehingga pintu masuk informasi baru akan
lebih lebar dan terekam dengan baik.
7.
Contextual Teaching and
Learning (CTL)
Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia
nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar